Opini

"Epic Fury": Perang yang Mustahil Dimenangkan

Sawedi Muhammad - detikSulsel
Kamis, 19 Mar 2026 14:51 WIB
Foto: Sosiolog Unhas Sawedi Muhammad. (dok. istimewa)
Makassar -

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi.

"Before you start some work, always ask yourself three questions - Why am I doing it, What the result might be and Will I be successful. Only when you think deeply and find satisfactory answers to these questions, go ahead" (Chanakya, The Arthashastra.)

Donald Trump dan Netanyahu sepertinya tidak membaca dan tidak pernah mendengar nasihat bijak dari Chanakya (Kautilya), ahli strategi militer yang juga sebagai penasihat Maharaja Maurya pertama Chandragupta. Ketika memutuskan untuk menyerang Iran melalui operasi militer "Epic Fury", Trump, seperti yang diposting di TruthSocial menguraikan tujuan utama yaitu; mencegah Iran memproduksi senjata nuklir, menggulingkan rezim Khameini, menghancurkan persenjataan rudal dan lokasi produksinya, melemahkan jaringan proksinya dan memusnahkan angkatan lautnya. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt meyakinkan dunia bahwa Amerika akan menaklukkan Iran hanya dalam waktu empat sampai enam minggu.

Amerika dan Israel begitu yakin bahwa kombinasi kekuatan dan kecanggihan teknologi militer, terutama serangan udaranya yang sangat presisi akan mampu menundukkan Iran dalam waktu singkat. Pertanyaannya adalah mampukah Trump membuktikan janjinya menaklukkan Iran dalam waktu singkat? Mengapa Amerika dan Israel sangat berambisi menyerang Iran? Apa reaksi masyarakat Iran setelah Amerika dan Israel menewaskan beberapa petinggi militer dan pemimpin tertingginya Ali Khameini?

Motivasi untuk Berperang

Richard Ned Lebow dalam bukunya "Why Nations Fight: Past and Future Motives for War" (2012), menawarkan analisis menarik mengapa pemimpin sebuah negara memutuskan untuk berperang dengan negara lain. Lebow menelusuri 94 peperangan yang telah berlangsung dalam tiga setengah abad sejak 1648. Ia menyimpulkan bahwa terdapat setidaknya tiga motivasi utama mengapa perang terjadi; ketakutan (fear), identitas (identity) dan balas dendam (revenge). Sepertinya ketiga motivasi perang yang ditegaskan Lebow sangat tepat untuk menjelaskan mengapa Trump dan Netanyahu menyerang Iran. Sebagai negara yang menolak tunduk pada dominasi Barat sejak tumbangnya rezim Rezah Pahlavi melalui revolusi Islam 1979, Iran menjadi negara teokrasi yang lantang melawan dominasi Barat, anti kolonialisme dan imperialisme dan konsisten memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Mantan presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad sesaat setelah dilantik menegaskan bahwa Israel adalah "noda yang memalukan" dan harus dihapus dari muka bumi. Ahmadinejad kemudian menambahkan bahwa: "Siapa pun yang mengakui Israel akan terbakar dalam api kemarahan bangsa Islam, sementara setiap pemimpin Islam yang mengakui rezim zionis berarti dia mengakui penyerahan dan kekalahan dunia Islam" (The Guardian, 2005).

Sementara menurut Ali Khameini, Israel adalah "tumor kanker" di Timur Tengah, entitas penjajah dan negara ilegal, serta tidak akan eksis dalam 25 tahun. Rezim teokrasi Iran juga memimpin poros perlawanan terhadap rezim zionis melalui aliansi dengan pasukan proksi di Lebanon, Irak, Suriah, Yaman dan Palestina. Tujuan utamanya adalah penghancuran Israel. Selain perjuangannya membela Palestina, Iran adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki ambisi untuk memproduksi senjata nuklir. Iran diketahui memiliki fasilitas metalurgi di Isfahan serta fasilitas pengayaan uranium di Natanz dan Fordow. Kemampuan pengayaan uranium ini menjadikan Iran satu-satunya negara di kawasan Timur Tengah yang mampu mengimbangi kekuatan militer Israel dan melawan dominasi Barat.

Ketakutan (fear) akan kemampuan Iran memproduksi senjata nuklir yang mampu menjangkau lintas benua menjadi pendorong utama mengapa Amerika dan Israel menyerang Iran. Selain itu Israel sebagai kelompok yang paling kuat angkatan bersenjatanya di Timur Tengah tidak mau disaingi oleh kekuatan manapun. Sebagai entitas yang status kedaulatan dan batas teritorialnya masih terus diperdebatkan, Israel secara geopolitik dikepung oleh berbagai faksi bersenjata yang setiap saat mengancam keamanan teritorialnya.

Iran sebagai mentor dari kelompok garis keras yang menentang eksistensi Israel sekaligus menyuplai dana dan senjata telah membuat Israel kewalahan dalam menghadapi perlawanan sengit baik dari Hamas, Hizbollah, Houthi dan Hashd al-Shaabi. Kelompok proksi binaan Iran ini sering disebut sebagai poros perlawanan (Axis of Resistance). Melalui operasi "Epic Fury" baik Amerika maupun Israel dapat melampiaskan dendam (revenge) terhadap Teheran yang tanpa henti melakukan perlawanan terhadap kepentingan kedua negara.

Jebakan Khameini

Meski Donald Trump mengklaim telah menang perang melawan Iran saat berbicara di hadapan pendukungnya di Hebron, Kentucky, pada Rabu 11 Maret 2026, tidak serta merta tujuan utama dari Epic Fury tercapai. Serangan udara yang begitu masif dengan membombardir Teheran dan syahidnya Rahbar Ali Khameini, telah menjadi kebanggaan bagi Trump dan Netanyahu. Dengan nada pongah, Trump menulis di platform Truth Social, "Khameini, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati". Dikutip dari AFP, Netanyahu mengeluarkan nada yang sama, "Pagi ini, dalam serangan mendadak yang dahsyat, kompleks kediaman diktator Ali Khameini hancur di jantung Teheran". Netanyahu melanjutkan, "Selama lebih dari tiga setengah dekade, diktator kejam ini telah menyebarkan teror di seluruh dunia sambil menindas rakyatnya sendiri, sambil bekerja tanpa lelah dan tanpa henti pada rencana untuk menghancurkan Israel". Bagi Trump dan Netanyahu, setelah syahidnya Sang Rahbar, rakyat Iran akan memenuhi jalan raya, menuntut pergantian rezim, meminta bantuan Amerika untuk memulihkan keamanan melalui pemimpin boneka yang pro Amerika-Israel dan transisi kepemimpinan akan ditentukan melalui pemilihan umum yang demokratis.

Akan tetapi, imajinasi Trump dan Netanyahu tidak seindah yang mereka bayangkan. Setelah Khameini dinyatakan sebagai martir, ribuan orang turun ke jalan bukan menuntut pergantian rezim atau reformasi sistem politik dan ekonomi sebagaimana yang diharapkan oleh Amerika dan Israel. Mereka justru memberi semangat kepada pemimpinnya untuk konsisten melakukan perlawanan terhadap kekuatan imperialisme dan kolonialisme Amerika. Bagi rakyat Iran, kematian sang Rahbar bukan penanda akan runtuhnya pemerintahan, tetapi penyulut api perlawanan terhadap kekuatan asing yang mustahil dipadamkan. Bagi rakyat Iran hari ini, kemenangan dalam perang tidak identik dengan menaklukkan para agresor, tetapi menghantui psikis mereka bahwa menundukkan peradaban Persia adalah sebuah kemustahilan. Narasi yang berkembang saat ini adalah apabila Amerika bermaksud menaklukkan Teheran, Maka ia harus menaklukkan 90 juta rakyat Iran.

Sosiolog Nematollah Fazeli, sebagaimana dikutip the Guardian mengamati munculnya apa yang disebut sebagai "everyday nationalism", yang dalam istilah Michael Billig (1995) sebagai nasionalisme banal. Nasionalisme seperti ini tidak diproduksi secara emosional yang bersifat temporer tetapi terus menerus direproduksi melalui narasi kebangsaan, sejarah, puisi dan budaya Persia yang telah eksis selama lebih dari 5.000 tahun. Di masa perang, bangsa Iran tidak lagi tersekat secara kultural-eksklusif berdasarkan, suku, agama atau aliran kepercayaan. Keturunan Persia, Turki, Kurdi dan Balucistan semua menyatu dalam emosi yang sama; melawan imperialisme dan kolonialisme Amerika yang telah menyengsarakan bangsa Iran selama lebih dari empat dekade.

Nasionalisme Iran yang muncul hari ini tidak identik dengan ideologi negara Islam yang eksklusif melainkan nasionalisme peradaban persia yang selama ribuan tahun membuktikan resiliensinya terhadap agresi negara lain. Adalah Abolqasem Mansour bin Hassan Tusi alias Ferdowsi, penyair kenamaan Persia menulis puisi yang merepresentasi kondisi kebatinan bangsa Iran di masa perang, "Kami telah membangun istana megah yang tinggi menjulang dan tak akan pernah bisa ditaklukkan. Hujan badai dan angin puting beliung sekalipun tak bisa menghancurkannya". Ferdowsi - The Shahnameh.

Oleh:

Sawedi Muhammad
(Sosiolog Universitas Hasanuddin)



Simak Video "Video: Israel Klaim Tewaskan Calon Kepala Kantor Militer Pemimpin Tertinggi Iran"

(sar/sar)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork