Akhir-akhir ini bangsa kita gaduh oleh sejumlah kasus skandal yang merugikan dan merusak tatanan kenegaraan. Menggurita di lembaga pemerintahan (eksekutif, legislatif, yudikatif).
Kasus Nazaruddin yang menjadi sorotan publik adalah santapan empuk bagi politisi non Partai Demokrat. Tak ketinggalan pula Wakil Ketua DPR Pramono Anung dan mantan Ketua Umum DPP Golkar Jusuf Kalla.
Dalam artikelnya berjudul "Kyai Said, NU dan Krisis Gagasan" di media ini (9/6) Moch Eksan menuduh Kyai Said diam dan dibawah kepemimpinannya NU saat ini katanya miskin gagasan.
Kepemimpinan dalam Islam sangat vital. Dua kelompok besar Islam Sunni dan Syi'ah tidak berbeda pandangan tentang wajibnya seorang pemimpin dalam sebuah negara.
Eks Bendahara Umum PD Nazaruddin disebut-sebut terkait dugaan suap di Kemenpora. Mencuatnya kasus Nazar diikuti meruncingnya faksi di tubuh PD. Soal soliditas menjadi lampu kuning bagi Demokrat jelang 2014.
Dewasa ini ada keluhan dalam masyarakat terhadap kondisi pemerintahan yang dirasakan kurang efektif. Pada umumnya orang melihat kelemahan ini terletak pada sistem kepemimpinan yang kurang baik.
Perubahan penting dalam paradigma kekuasaan di era reformasi: kesempatan untuk memimpin tidak diberikan sebagai sarana untuk mempertahankan kekuasaan selama mungkin (BJ Habibie di Kairo).