Pasca penyerangan Ahmadiyah di Cikeusik dan kerusuhan di Temanggung banyak SMS hasutan berbau SARA yang menghasut agar melakukan aksi balasan. Kapolri Jenderal Timur Pradopo pun meminta agar masyarakat tidak terpancing SMS itu.
9 Kendaraan bak terbuka dan 3 Suzuki Carry berjalan beriringan. Di atas kendaraan itu, dibuat bambu model tenda kemah. Bedanya, penutup tenda berupa kain cetak bertuliskan apa saja, dari persoalan rusuh SARA hingga korupsi.
Dua peristiwa kerusuhan yang terjadi Pandeglang, Banten dan Temanggung karena akibat kurangnya lapangan pekerjaan. Akibat banyaknya angka pengangguran, maka rakyat akan mudah dihasut.
Kerusuhan berbau SARA yang belakangan ini terjadi menjadi tanggung jawab para pemimpin. Para pemimpin di segala aspek kehidupan harus mewujudkan suasana yang sejuk dan menenangkan.
Insiden kekerasan berbau SARA semakin marak. Hal ini ditandai mulai dari kasus Cikeusik sampai penyerangan pondok pesantren di Pasuruan. Diduga ada kelompok yang ingin memecah belah umat.
Karena ingin membantu anaknya memiliki anak, seorang ibu yang sudah tua rela meminjamkan rahimnya menjadi ibu pengganti yang mengandung cucunya. Jadilah sang cucu keluar dari rahim yang sama dengan ibunya.
Komnas HAM hari ini menggelar rapat pimpinan untuk membahas insiden penyerangan warga Ahmadiyah Cikeusik, Pandeglang. Komnas HAM juga berencana akan memintai keterangan pada korban penyerangan tersebut.
Majelis Ulama Indonesia mengimbau masyarakat untuk tidak terpancing emosi pada isu-isu SARA. Jika ada konflik, sebaiknya diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian sehingga tidak terjadi main hakim sendiri.