Sejumlah komoditas berhasil mencetak kenaikan harga yang sangat signifikan selama 2011 di tengah kondisi pasar finansial yang lesu. Namun sebagian lagi justru merosot tajam.
Harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) di Desember 2011 mencapai US$ 110,7 per barel atau turun dari November US$ 112,52 per barel.
Ancaman harga minyak menembus hingga US$ 150/barel terkait semakin memanasnya AS dan Iran, bisa berimplikasi pada harga BBM non subsidi seperti Pertamax.
Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menandatangani undang-undang yang mengatur sanksi baru bagi Iran (Defense Authorization Act). Sanksi itu menargetkan Bank Sentral dan sektor finansial Iran.
Kepala BPH Migas Tubagus Haryono yakin kalau tiga badan usaha yang ditunjuk menjadi pendamping PT Pertamina (persero) dalam mendistribusikan BBM Bersubsidi, pasti akan mendapatkan untung besar.
Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan menyatakan pola distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi (PSO) di Indonesia merupakan yang sangat sulit se-Dunia.
Presiden SBY menargetkan secara perlahan Indonesia bisa memasok energi ke masyarakat global. Hal ini selain bisa menentukan harga energi dunia juga memberikan keuntungan bagi Indonesia.