Arogansi terjadi di mana-mana. Di daerah amuk massa dan merusak kantor polisi atau kantor pemerintahan marak. Sedang di perkotaan, sikap adidang adigung dipamer-pamerkan. Sikap sopo siro sopo ingsun (lu jual gue beli) itu ngetren.
Sebanyak 24 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mansyaul Huda terpaksa menjalani Ujian Nasional (UN) di Balai Desa Mayangrejo Kecamatan Kalitidu Bojonegoro. Pasalnya, terjadi konflik di internal yayasan sekolah.
Untuk memantapkan hati menjelang ujian nasional (UN), seluruh siswa SD se Kecamatan Sawahan menggelar doa bersama atau istighosah. Kegiatan yang dilakukan di Masjid Rahmat itu juga diikuti guru serta wali murid.
Karena kepercayaan akan hal mistik masih kental, maka warga mengadakan pengajian pada Kamis (3/5) malam. "Saat pengajian tiba-tiba semua warga yang hadir tangannya menjadi basah dan wangi," ungkap H. Muhammad Soleh.
Pendidikan karakter yang didengung-dengungkan oleh pemerintah sejak beberapa tahun kebelakangan ini sejatinya adalah harapan yang diimpikan oleh siapapun juga warga nusantara.
Kecurangan Ujian Nasional bukan lagi sekedar wacana. Berbagai bentuk kecurangan terjadi selama pelaksanaan UN. Dari berbagai kecurangan tersebut, salah satunya ditemukan oleh Komunitas Air Mata Guru (KAMG) di Sumatera Utara.
Sekolah pemerintah berlabel internasional mewajibkan gurunya mengajar dengan menggunakan Bahasa Inggris. Namun kebijakan ini menuai kontroversi saat sekolah lokal rasa internasional ini digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK).
Seakan tertanam di alam bawah sadar sebagian masyarakat Indonesia apabila ingin pintar harus lancar berbahasa Inggris. Namun asumsi ini tidak benar seluruhnya.