Bentuknya memang mirip seperti bawang, tapi ukurannya jauh lebih kecil.Ada yang menyebutnya mirip bawang putih. Biasanya digunakan sebagai campuran asinan ataupun beberapa masakan. Lantas mengapa namanya bawang Batak? Temukan jawabannya di sini!
Penduduk pesisir dan nelayan terdampak langsung perubahan iklim. Musim tak terprediksi, panen ikan merosot, dan hari melaut nelayan rata-rata hanya 180 hari atau enam bulan. Akibatnya, keluarga nelayan pun kian terjerat utang.
Pasar tradisional lambat laun menghilang dari Jakarta. Keberadaannya digantikan aneka hipermarket modern seperti Carrefour atau Hypermart. Pemerintah pun tidak memberikan perlindungan.
Tidak semua pasar tradisional di Jakarta dikelola oleh PD Pasar Jaya. Ada juga pasar tradisional yang berdiri di tanah keluarga dan tetap mampu bertahan dari gilasan pasar hipermarket modern.
Pernah mendengar kalau bunga dijadikan sayur? Yak, bunga pepaya ini memang biasa dimasak dengan cara ditumis. Rasanya sedikit pahit tapi tetap sedap. Tambahan ikan cakalang bikin rasanya makin enak!
Becek, bau, sempit dan pengap. Pasar tradisional masih belum ditinggalkan orang di tengah himpitan pasar hipermarket yang modern. Mereka mencoba tetap hidup seperti remang-remang lampu petromaks.
Kerugian besar yang diderita akibat kebakaran, tidak membuat pedagang di Pasar Ujung berung patah arang. Mereka tetap berjualan meski harus membawa dagangannya pulang-pergi.
Selain kandungan nutrisinya yang tinggi, ikan sidat juga tergolong ikan kelas menengah atas karena mahal. Konon, di Jepang, menu ikan sidat yang disebut unagi ini dijual dengan harga Rp 490 ribu per ekor.