Berulang kali Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengirim sinyal untuk Megawati Soekarnoputri. SBY ingin rekonsiliasi dengan Ketua Umum PDI Perjuangan itu.
Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengeluarkan pernyataan menasionalisasi aset asing merupakan hal yang justru berisiko bagi perekonomian Indonesia. Direktur PolcoMM Institute Heri Budianto menyebut pernyataan SBY itu realistis.
Presiden SBY menyindir capres yang menebar janji-janji kampanye berbahaya bagi Indonesia yakni nasionalisasi aset dan kembali ke UUD 1945. SBY tak menyebut siapa capres yang dimaksud, namun selama ini capres Gerindra Prabowo adalah orang kerap menyinggung kembalinya aset nasional.
Cerita mengenai Satrio Piningit dalam konteks poros PDI-P, menjadi rancu karena anggapan Satrio Piningit yang semula adalah Jokowi kini justru berubah jadi tokoh bakal cawapres yang akan diorbitkan Jokowi dan Megawati. Tak bisa diabaikan juga pergerakan poros Golkar (ARB) dengan poros Gerindra (Prabowo)
Presiden SBY melempar sindiran tajam ke Prabowo Subianto soal janji kampanye yang membahayakan Indonesia. Sindiran tajam ke capres Gerindra itu bak pedang bermata dua, ada pesan lain yang disampaikan SBY.
Lagu-lagu karya Sang Raja dangdut itu dinilai sarat akan makna nasionalisme. Setidaknya Rhoma di mata dan telinga Bang Herman memiliki gagasan yang sudah melegenda di kalangan penggemarnya.
Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie (Ical) disebut telah siap menjadi cawapres dari Prabowo Subianto. Jika benar, Ical harus punya alasan kuat untuk hal tersebut.
Ketua Umum Partai Hanura Wiranto masih enggan mengungkapkan kemana partainya akan berlabuh. Usai Rapimnas yang digelar tertutup dan berakhir antiklimaks, Wiranto masih bungkam mengenai arah koalisi partai besutannya.