Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira justru menilai kebijakan ini seakan seperti de javu kebijakan komoditas batu bara belum lama ini.
PT Wilmar Nabati Indonesia sendiri merupakan anak usaha dari Grup Wilmar atau Wilmar International Ltd, perusahaan sawit raksasa yang berbasis di Singapura.
Berbagai spekulasi muncul di publik, sementara pemerintah terkesan tidak berdaya dan ujung-ujungnya bukan mencari penyebab persoalan ini, tapi memberi BLT.