Aksi unjuk rasa mengkritisi 100 hari pemerintahan SBY-Boediono membuat jalur di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, terpaksa ditutup oleh petugas kepolisian, Kamis (28/1/2010).
Gelombang aksi dari berbagai elemen massa kembali mendatangi Gedung Sate. Jumlah demonstran sudah mencapai lebih dari seribu orang, dengan tuntutan yang hampir serupa.
200 Demonstran yang menamakan dirinya Serikat Rakyat Miskin Indonesia mulai bergerak ke Istana Presiden. Para demonstran berjalan kaki melalui Jl Medan Merdeka Barat.
Nasabah Bank Century di Surabaya ikut berunjuk rasa memperingati 100 hari kinerja SBY-Boediono. Mereka menyerukan agar rakyat Indonesia bersatu menurunkan SBY, karena tidak bisa menyelesaikan permasalahan Bank Century.
Sekitar 100 orang massa yang tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat (FPR) mengawali demonstrasinya di Bundaran Hotel Indonesia (HI). Mereka menuntut Presiden SBY-Boedino untuk mundur dari jabatannya. Mereka menilai program 100 hari SBY-Boediono gagal menyejahterakan rakyat.
Aksi berbeda digelar mahasiswa Sumenep, Madura. Mahasiswa yang tergabung dalam PMII menggelar tahlil dan membaca surat yasin mengkritisi 100 hari pemerintahan SBY-Boediono.
Selain Istana Negara, Gedung DPR juga menjadi sasaran pendemo. Puluhan buruh demo di DPR memprotes kinerja 100 hari pemerintahan SBY-Boediono yang belum berpihak pada buruh.
Ratusan buruh dan elemen masyarakat mulai berdatangan dan melakukan aksi unjuk rasa mengkritisi 100 hari Pemerintahan SBY-Boediono. Sampai di Gedung DPRD Jawa Timur mereka langsung mengelar orasi.
Pencapaian program kerja 100 hari pemerintah SBY - Boediono tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Ini karena sejak awal program 100 hari memang tidak jelas target apa saja yang akan dicapai alias kabur.