Bandung, 21 April 1955. Konferensi Asia Afrika memasuki hari keempat. Di salah satu sudut ruangan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo menerima nota rahasia dari koleganya, Perdana Menteri Cina Zhou Enlai. Apa isinya?
Konferensi Asia Afrika yang digelar pada 18-24 April 1955 di Bandung, Jawa Barat, tak semua diisi dengan agenda serius. Sejumlah kepala negara yang hadir sempat melepas penat dengan berdansa atau menikmati Kota Bandung.
Niat Presiden Sukarno mempertemukan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk menentang kolonialisme tak berjalan mulus. Sebagian peserta Konferensi Asia Afrika pada 1955 waktu itu menentang kehadiran delegasi Cina yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Zhou Enlai.
Dalam pidatonya saat dikukuhkan sebagai guru besar, Chairul Tanjung (CT) menerangkan bahwa kewirausahaan menurutnya adalah perpaduan antara pragmatisme, idealisme, dan tata nilai Indonesia.
Sepertinya presiden sudah harus turun tangan untuk membenahi sepakbola nasional. Relawan Joko Widodo meminta orang nomor satu di republik ini supaya mendukung menterinya, Menpora Imam Nahrawi.
Konferensi Asia Afrika yang digagas Presiden Sukarno pada 18 sampai 24 April tahun 1955 berhasil 'mendamaikan' sejumlah negara yang bersitegang. Misalnya Cina dengan negara-negara di Asia yang menentang paham komunisme.
Pada saat digelar Konferensi Asia Afrika tahun 1955 usia bangsa Indonesia baru satu dasawarsa. Namun wibawa Sukarno yang baru sepuluh tahun menjadi Presiden ternyata mampu menyatukan 23 negara di Asia dan 6 di Afrika dalam satu tekad.
Salah satu titik krusial dalam acara peringatan Konferensi Asia Afrika ke 60 tahun pada 19-24 April nanti ada di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng dan Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Bagaimana kesiapan Angkasa Pura II dalam menyambut acara yang akan mengundang banyak kepala negara ini?