Dari perahu kole-kole hingga hingga kapal dagang dan pesawat kecil, semua berlabuh di Senggo. Senggo yang ramai di tempat terpencil, jauh di pedalaman Papua.
2 ekor paus melintas disamping speed-boat kami. Sayang, saya hanya melihat sebagian badannya dan tidak sempat mengambil foto. Meskipun kami tunggu selama beberapa saat, paus ini sudah tak terlihat lagi.
Pendistribusian bantuan logistik ke lokasi bencana tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, mengalami kendala. Ombak besar dan mahalnya biaya transportasi menyebabkan distribusi bantuan tersendat.
Satu fakta yang kami dapatkan disini adalah begitu banyak bibit unggul perenang dan atlet dayung yang berbakat karena alam dan lingkungan yang membentuk mereka, namun pemerintah seakan tidak dapat menjangkau keberadaan mereka yang mungkin saja jauh dari pusat kota dan tidak mendapatkan pendidikan khusus atlet.
Kondisi geografis Papua bagian selatan yang banyak dialiri sungai, transportasi air menjadi sangat vital. Desa Senggo yang terletak di pedalaman, namun cukup banyak penghuninya dari berbagai suku dan daerah. Desa ini pun menjadi pelabuhan yang ramai didatangi kapal-kapal dagang dari luar Papua.
Senggo, sebuah desa di pinggiran sungai Daerum. Disitulah saya, Harley dan Bang Leo kami menginap sebelum berpetualang ke pedalaman Suku Korowai di Basman. Sebuah desa di Distrik Citak Mitak Kab. Mappi yang jaraknya kurang lebih enam jam dengan speed boat dari Agats. Melewati Teluk Flamingo di Laut Aru dan sungai-sungai besar di Papua menjadikan perjalanan ini sebuah petualangan yang seru.
Pesawat Polri jenis Skytruck yang jatuh di Wami, Distrik Wanggar, Nabire, Papua sudah berhasil di evakuasi. Dari 5 korban tewas yang dibawa ke rumah sakit, baru 3 yang dapat di identifikasi.