Mbah Maridjan sebenarnya bersedia dievakuasi pada Selasa 26 Oktober, selepas magrib. Namun sebelum diungsikan, pria yang bergelar Raden Ngabehi Surakso Hargo itu ingin salat terlebih dulu. Namun sayang, awan panas alias wedhus gembel telanjur menggulung rumah Mbah Maridjan.
Masyarakat mengenal sosok Mbah Maridjan sebagai juru kunci atau kuncen Gunung Merapi. Namun Sri Sultan Hamengku Buwono X justru menyebut, pria yang ikut menjadi korban awan panas Merapi itu bukanlah juru kunci Gunung Merapi.
Juru kunci (kuncen) Merapi Mbah Maridjan meninggal dunia. Pihak Keraton Yogyakarta, yang menunjuk Mbah Maridjan untuk bertugas di Merapi pun sudah melakukan pengecekan.