Ada harapan muncul dari kabar buruk kegagalan Indonesia meraih gelar di All England. Sukses Praveen Jordan/Debby Sutanto lolos ke semifinal menunjukkan potensi besar yang dipunya pasangan itu.
Ditargetkan mempertahankan dua titel yang didapat tahun lalu, Indonesia justru pulang tanpa gelar dari All England 2015. PB PBSI tak menyangkal kalau mereka telah gagal di ajang tersebut.
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir gagal memeuni harapan untuk meraih titel All England keempat beruntun. Ganda campuran terbaik nasional itu sudah langsung dihadapkan satu target lainnya: Kejuaraan Dunia.
Kekalahan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir membuat Indonesia pulang dari All England 2015 dengan tangan hampa. Meski demikian Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, mengapresiasi usaha keras keduanya seraya meminta prestasi bulutangkis nasional ditingkatkan.
China masih mendominasi gelaran All England 2015 setelah merebut tiga gelar juara. Sementara Denmark dan Spanyol masing-masing meraih satu. Indonesia? Pulang dengan tangan kosong.
Setelah membuat kejutan besar dengan jadi kampiun di Kejuaraan Dunia 2014, Carolina Marin kembali mengukuhnya dirinya di jajaran atas pebulutangkis wanita terbaik dunia dengan memenangi All England 2015.
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir hanya menjadi runner-up All England Super Series Premier 2015. Gagal menjadi juara, ganda campuran terbaik tanah air itu mengakui tampil antiklimaks di partai puncak.
Indonesia gagal total di All England Super Series Premier 2015. Tak satupun wakil Merah Putih membawa pulang titel dari ajang berhadiah total USD 500 ribu tersebut.
Bisa maju ke final dan berpeluang mempertahankan gelar tentu bikin Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir gembira. Tetapi karena masih ada satu partai tersisa, yang juga merupakan puncaknya, mereka tak mau kehilangan fokus.