Krakatau Steel diminta untuk memantau pergerakan industri baja pasca berlakunya Asean China Free Trade Agreement (AC-FTA) sebelum melangsungkan penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO).
Dari 12 kelompok pos tarif dalam Asean-China Free Trade Agreement (AC-FTA), hanya tiga kelompok pos tarif yang berhubungan dengan produk- produk BUMN yaitu besi baja, permesinan dan kimia organik.
Bergulirnya perdagangan bebas atau ASEAN-China Free Trade Agreement /AC-FTA (Normal Track 1/NT 1 per 1 Januari 2010) sedikit banyak akan mempengaruhi konstelasi industri baja nasional.
Harga baja dan produk baja domestik dipastikan mengalami kenaikan mulai dari Januari-Juni 2010 sebesar 15-20%. Kenaikan ini dipicu naiknya harga bahan baku bijih besi dan lonjakan harga minyak dunia.
Pembangunan Perumahan (PP) akan ikut menggarap proyek power plant milik PT Krakatau Daya Listrik (KDL) anak usaha PT Krakatau Steel. Nilai proyek ini ditaksir sebesar Rp 3,3 triliun.
BUMN mendorong pemerintah segera menerapkan label SNI terhadap produk-produk China yang akan masuk setelah diberlakukannya ASEAN-China Free Trade Agreement (FTA).
PTPN III dinilai paling siap melepas sahamnya ke publik lewat penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO) pada tahun ini, dibanding PTPN IV dan PTPN VII seperti yang direncanakan sebelumnya.
Kementerian BUMN melihat adanya kemungkinan Krakatau Steel (KS) melangsungkan IPO lebih cepat ketimbang Garuda Indonesia. Krakatau Steel disinyalir bisa melepas sahamnya ke pasar di semester I-2010.
Total volume penjualan baja PT Krakatau Steel (KS) hingga akhir tahun 2009 mencapai sekitar 2 juta ton. Penjualan itu melampaui target yang sebesar 1,6 juta ton.