Tio terlahir tanpa dua tangan dan dua kaki. Meski memiliki keterbatasan fisik, tak menyurutkan semangatnya untuk belajar. Dengan mulutnya, ia mampu menulis.
Warung burjo Kahoyong itu selalu ramai. Posisinya di persimpangan antara institut seni, akademi kebidanan, dan kampus politeknik. Banyak mahasiswa nongkrong.