Jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jakarta telah beralih fungsi. Tidak hanya digunakan untuk pejalan kaki, tetapi juga dijadikan lapak bagi pedagang kaki lima (PKL), gelandangan dan pengemis.
M Ebon (21) yang tewas tersetrum karena memegang besi JPO di Jalan Terusan Kuningan, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan ternyata adalah pegawai lepas Suku Dinas Pekerjaan Umum (PU) Jakarta Selatan. Gubernur DKI Fauzi Bowo pun meminta Dinas PU DKI memperhatikan kasus ini.
Reklame yang menggunakan sambungan listrik liar diduga menjadi penyebab tewasnya Ebon di jembatan Jl Terusan Kuningan. Rupanya reklame yang menggunakan sambungan listrik liar masih bertebaran meskipun PLN telah rutin melakukan penertiban.
M Ebon tewas tersetrum listrik di jembatan penyeberangan orang Jl Terusan Kuningan. PLN menyatakan aliran listrik di jembatan ini berasal dari papan reklame yang menggunakan sambungan liar.
M Ebon meregang nyawa setelah tersengat listrik di JPO di Jalan Terusan Kuningan, Mampang Prapatan. Ternyata Ebon bukan bukanlah petugas kebersihan seperti disebutkan sebelumnya.
Menyeberang jalan tanpa menggunakan JPO berisiko tertabrak kendaraan. Namun Senin (9/3) lalu, M Ebon, malah tewas tersetrum di JPO di Jalan Terusan Kuningan, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Belasan pedagang menggelar lapak di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Blok M bagaikan 'mal mini'. Ada kaos, stiker, asesoris dan makanan. Penyeberang jalan merasa terganggu.
Tidak semua JPO di DKI merupakan tanggung jawab Dishub DKI. Seperti JPO di Terusan Kuningan, Mampang Prapatan, tempat M Ebon tewas tersetrum, berada di bawah pengelolaan Ditjen Bina Marga, Kementerian PU.
Duka mendalam menyelimuti keluarga Ebon (21) di Cirebon. <i>Wong cilik</i> yang mengais rezeki sebagai petugas kebersihan ini meregang nyawa karena tersetrum listrik di JPO Jl Terusan Kuningan. Pemerintah lalai.