Puluhan janin dan orok yang digugurkan, dikubur di rumah nenek berusia 65 tahun itu. Setelah kasus aborsi Mbok Yam terbongkar, ketakutan menghantui warga.
Terbongkarnya praktik aborsi berkedok dukun pijat yang dilakukan Senenti atau Mbok Yam (65) sudah membuat geger Kota Probolinggo. Yang mencengangkan, praktik aborsi ini ternyata sudah dilakukan semenjak Mbok Yam masih muda.
Kasus praktik aborsi dukun pijat Senenti alias Mbok Yam (65) belum menunjukkan perkembangan signifikan. Pasalnya, Mbok Yam (65) dan Mbok Ho (60). Namun ibu korban dan bidan Puskesmas Sumberasih diperiksa.
Polisi mengambil sample DNA remaja korban aborsi di rumah Mbok Yam alias Senenti (65) warga Dusun Polai Desa Semendi, Tongas, Probolinggo. DNA ini diambil untuk mencocokkan janin yang dikubur di rumah Mbok Yam.
Aksi Senenti (65) nyaris tak terendus. Bahkan tetangga terdekat pun tak tahu bahwa ia merupakan dukun aborsi. Semua kaget saat di rumah nenek yang akrab disapa Mbok Yam itu ditemukan 'kuburan' puluhan janin.
Polisi sempat kelabakan saat korban aborsi remaja 14 tahun melarikan diri dari RSU dr Muhammad Saleh Kota Probolinggo. Namun saat diburu, korban sengaja dipulangkan lantaran orangtuanya tidak lagi memiliki biaya.
Setelah ditetapkan sebagai tersangka dan menghuni tahanan Mapolresta Probolinggo atas kasus dukun aborsi, kondisi kesehatan Senenti alias Mbok Yam (65) mulai menurun karena tensi darahnya tinggi.
Meski statusnya tersangka, Sulastri alias Mbok Ho (60) yang sering membantu Mbok Yam melakukan aborsi, hanya dijadikan tahanan kota. Pasalnya, wanita tersebut memiliki penyakit diabetes dengan luka di bagian kaki.
Penyelidikan polisi terkait kasus dukun aborsi Mbok Yam (65), kembali menemukan satu janin yang dikubur. Orok yang kondisinya sudah bercampur tanah itu ditemukan saat polisi kembali melakukan olah TKP pagi tadi sekitar pukul 09.00 WIB.