Selama pilpres berlangsung, pasangan Mega-Prabowo tampil sebagai pemenang pertama, JK-Wiranto muncul sebagai pemenang kedua, serta SBY-Boediono justru kehilangan banyak suara pemilih. Karena hasil survei LSI, SBY memperoleh 70 persen, sementara hasil quick count hanya 60 persen.
Setelah jagonya kalah di Pilpres 2009, Partai Golkar terindikasi akan bergabung ke kubu SBY-Boediono. Jika benar terjadi, parlemen akan terlampau kuat dan berpeluang melemahkan upaya pemberantasan korupsi.
Cawapres Boediono berorasi dengan gaya berbeda. Pria yang sebelumnya dikenal lembut itu mengubah gayanya dengan berorasi berapi-api sambil menggerak-gerakkan tangannya ke arah massa. Boediono meminta capres yang kalah jangan sampai memusuhi yang menang.
Parpol pendukung SBY-Boeidono bertekad tidak hanya menang di dalam negeri. Salah satu parpol pendukung, PKS menyatakan siap memenangkan pasangan nomor dua tersebut di Malaysia.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diminta untuk tidak mengacak-acak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga independen. SBY diminta lebih konsentrasi untuk memperbaiki kinerja eksekutif, seperti kejaksaan dan kepolisian.
Menjelang Pilpres 2009, anggota Majelis Syuro PKS Hidayat Nurwahid makin gencar dalam melakukan konsolidasi untuk pasangan SBY-Boediono. Setelah di Lampung, Hidayat mengkonsolidasikan PKS di Bengkulu.
Survei yang dilakukan TII menempatkan DPR sebagai lembaga terkorup. Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR, Gayus Lumbuun pun mengakui jika dilembaganya banyak korupsi.
Momen pesta demokrasi tidak dilewatkan oleh beberapa sineas untuk merilis karyanya. Setelah 'Wakil Rakyat', kini giliran 'Capres' yang mencoba untuk mengocok perut penontonnya lewat guyonan-guyonan cerdas.