Kasus Gayus Tambunan benar-benar menyita perhatian publik. Sosok Gayus memang seakan penuh sensasi. Meski demikian, jangan lupakan masalah-masalah lain di Negeri ini, salah satunya soal buruh migran.
Satu lukisan karya maestro Basuki Abdullah yang berada di rumah proklamator Bung Hatta di Jalan Diponegoro 57, Jakarta, yang asli diganti dengan yang palsu. Keluarga Bung Hatta pun rugi sekitar Rp 6 miliar.
Satu lukisan karya maestro Basoeki Abdullah yang berada di rumah proklamator Bung Hatta, Jalan Diponegoro 57, Jakarta Pusat, digondol maling. Pelaku mengganti lukisan asli dengan yang palsu untuk menutupi aksinya.
Potret pelajar saat ini makin mengkhawatirkan. Mereka nekat berbuat asusila meski usia di bawah umur. Seperti Aulia (15), menjadi korban perbuatan bejat sang pacar.
Terdakwa teroris dari kelompok Pejaten, Abdul Haris menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Salah satu saksi yang dihadirkan adalah Yasir, seorang manajer rumah makan Abunawas.
Fraksi Partai Demokrat (FPD) mengklaim anggotanya telah membangun rumah aspirasi dengan dana mandiri. Disebutkan bahwa 60 persen anggota FPD telah membangun rumah aspirasi, salah satunya di wilayah Bali.
Plesiran Gayus menjadi sorotan. Mengapa? Kasus ini oleh banyak pihak dikaitkan dengan banyak nama Timur Pradopo sebagai Kapolri baru, Patrialis Akbar selaku Menteri Hukum, dan nama besar salah satu tokoh politik penting negeri ini.
Potret buram buruh migran sepertinya masih menjadi 'pemandangan' klasik. Sosiolog Ida Ruwaida mengatakan, sudah saatnya paradigma dalam melihat TKW berubah. TKW bukan sekadar sumber devisa, tapi juga duta bangsa.