Tak sengaja sepulang kami dari Bandara Rendani, kami melewati sebuah pasar di dekat sebuah pelabuhan nelayan. Pasar tradisional bernama Pasar Sanggeng. Kamipun memutuskan untuk singgah melihat-lihat pasar yang menjual beraneka kebutuhan sehari-hari; beras, sagu, sayuran, buah-buahan, ikan, pakaian dan beberapa kebutuhan sekunder.
Apakah saya masih bisa disebut orang Indonesia kalau nyatanya saya banyak tidak tahu sejarah Indonesia. Dan yang lebih mengerikan, apakah saya masih boleh marah kalau nanti kebudayaan Buton diambil bangsa tetangga sementara saya sendiri hanya bisa menggeleng dan terdiam kalau ada yang bertanya Buton itu seperti apa.
Salah satu janji Sultan Buton adalah untuk tidak tidur dengan permaisuri demi mencegah lahirnya seorang putra mahkota. Hal ini ditujukan untuk menjaga sistem demokrasi di Kesultanan Buton.
Kepulauan Wakatobi dikenal sebagian besar penduduknya beragama Islam, sehingga tak heran jika bangunan masjid tua banyak ditemukan di sana. Di salah satu pulau terbesar di Wakatobi, Kaledupa tepatnya di Desa Ollo terdapat masjid tua yang sarat akan sejarah dan makna budaya setempat.
Berada tidak jauh di luar kompleks keraton, terdapat istana Sultan Buton ke-38 yang kini menjadi museum atau Pusat Kebudayaan Wolio. Jika ingin mengetahui seluk-beluk Kesultanan Buton, menghunjungi Pusat Kebudayaan Wolio merupakan pilihan yang tepat. Tempat ini memang sengaja menjaga sejarah keslutanan Buton tidak hanya dalam bentuk benda-banda besejarah tapi juga kisah-kisah yang siap diungkapkan oleh keluarga yang menjaganya serta tak kalah penting nilai-nilai falsafah kehidupan orang Buton sendiri.
Sebagai kerajaan Islam, sudah barang tentu salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Buton adalah Masjid Agung yang dibangun pada tahun 1712 ini dibangun oleh Sultan ke-19 Buton yaitu Sultan Sakiuddin Darul Alam.
Dari perahu kole-kole hingga hingga kapal dagang dan pesawat kecil, semua berlabuh di Senggo. Senggo yang ramai di tempat terpencil, jauh di pedalaman Papua.
Istana Malige merupakan rumah bagi Sultan Buton ke-37 yaitu Sultan Muhammad Hamidi Kaimuddin yang berkuasa sejak tahun 1927-1937. Tampak pekarangan di sekitar Istana Malige tidak terlalu istimewa namun tetap bersih terawat, menunjukkan sisa-sisa kejayaan Kesultanan Buton yang telah berakhir sejak tahun 1960.