Kuliner tradisional ini pastinya cukup akrab di lidah penikmat kuliner. Kuahnya gurih dengan aroma harum kunyit dan bawang yang menggelitik. Suwiran ayam, tauge, telur dan taburan daun kemangi bakal bikin liur ini menetes karena harumnya. Hmmm..sedap!
Makanan bergaya Suroboyoan ini banyak sekali pilihannya. Mulai dari ayam, tempe, tahu, jeroan, hingga bakso penyet. Disajikan dalam wadah cobek tanah liat plus lumuran sambal berlimpah yang menggigit. Huah..huah!
Melihat tampilannya dan mencicipi citarasanya secara sekilas, kita dapat berkesimpulan cepat bahwa sajian ini adalah persilangan antara rawon dan soto. Tetapi, sesungguhnya, nasi pindang adalah sajian yang sangat unik.
Lama sebelum ada kreativitas yang memunculkan sop buntut goreng maupun rawon goreng, di Desa Sunggingan, Kudus, sejak tahun 1960-an sudah muncul "fenomena kuliner" yang populer disebut sebagai "Opor Sunggingan".
Di Indonesia, khususnya Jawa, nama garang asem ternyata dipakai untuk berbagai jenis makanan. Setidaknya, ada lima jenis masakan Nusantara yang menyebut diri sebagai garang asem, sekalipun penampilannya sangat berbeda. Penamaan atau nomenklatur yang "kacau" ini merupakan isyarat agar kita segera melakukan standarisasi kuliner Nusantara.
Jangan bayangkan warnanya akan merah pekat seperti namanya. Kuahnya coklat kental dengan rasa gurih yang enak. Tambahan sayuran seperti potongan buncis dan kentang melengkapi sajian yang satu ini. Sluuurrpp!!
Pecel khas Madiun ini sambalnya gurih pedas, mlekoh dengan taburan mlandingan, kemangi dan timun plus rempeyek teri. Setelah diaduk dan disuap dengan kerupuk gendar hmm... sensasinya memang jadi enak dan sedap!
Mengeja nama tempat makan ini memang susah. Bagaimana tidak, namanya dari huruf konsonan semua yaitu Ny. WWKPnmsr. Usut punya usut, ternyata nama itu adalah nama pemiliknya Wiewiek Purnamasari, yang hanya diambil huruf konsonannya. Ada-ada saja ya?