Berbeda dengan Inggris yang menolak ikut serta dalam aksi militer ke Suriah, Prancis tetap dalam pendirian semula. Bahkan menurut Presiden Prancis Francois Hollande, serangan militer atas Suriah bisa terjadi pada 4 September mendatang.
Bertambah lagi negara Barat yang menolak ikut serta dalam aksi militer terhadap Suriah. Pemerintah Jerman menyampaikan penolakannya atas intervensi militer itu.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyerukan aksi unjuk rasa menentang rencana aksi militer AS di Suriah. Rakyat diminta ikut serta dalam demo yang digelar di luar gedung Kedubes Suriah di Caracas.
Hingga saat ini, AS masih mencari dukungan koalisi internasional sebelum melakukan aksi militer ke Suriah. Hal ini pasca sekutu dekat mereka, Inggris memutuskan untuk tidak bergabung dengan AS.
Bom napalm dilaporkan dijatuhkan dan meledak di sebuah sekolah di Suriah. Sedikitnya 10 siswa yang masih remaja tewas dalam insiden ini. Sejumlah siswa lainnya mengalami luka bakar serius.
Presiden Suriah Bashar al-Assad dituding mempersiapkan ribuan tahanan untuk digunakan sebagai tameng manusia. Para tahanan dibawa ke lokasi-lokasi yang diperkirakan menjadi sasaran serangan asing.
Parlmen Inggris memutuskan tidak ada intervensi militer ke pemerintahan Presiden Bashar al-Assad yang diduga telah menggunakan senjata kimia. Mosi pemerintah kalah dengan 13 mayoritas suara. Tetapi PM David Cameron mengatakan "pemerintah akan tetap melakukan tindakan yang sesuai".
Media pemerintah China mengingatkan negara-negara Barat untuk tidak melancarkan serangan militer ke Suriah. AS dan sekutunya disebut "bertindak seperti hakim, juri dan algojo".
Sejumlah pihak beranggapan bahwa pemerintah Amerika Serikat menggunakan isu senjata kimia sebagai dalih melancarkan serangan militer ke Suriah, persis seperti Irak. Hal ini dibantah AS.