Pemerintah AS menyebutkan roket jarak jauh Korut yang akan diluncurkan bulan depan berdampak kepada beberapa negara Asia Tenggara, salah satunya Indonesia. Pemerintah RI diminta untuk mendesak Korut agar membatalkan rencana tersebut.
Pernyataan Kementerian Luar Negeri AS soal roket Korea Utara (Korut) yang mengancam Indonesia hanyalah bentuk provokasi intimidatif. Karena AS selalu berpandangan minor terhadap negara-negara yang tidak tunduk terhadap hegemoninya.
Bila Indonesia tak khawatir atas rencana peluncuran roket jarak jauh Korut, tidak demikian dengan Filipina. Negeri tetangga itu memantau rencana itu dan akan memprotesnya bertepatan dengan KTT Keamanan Nuklir II di Seoul, yang dihadiri para pemimpin dunia termasuk Presiden SBY.
Pejabat senior AS mengungkapkan kekhawatiran peluncuran rudal Korea Utara pada 15 April 2012 bisa berdampak ke Indonesia, Filipina dan Australia. Sebenarnya tak perlu ada kekhawatiran sepanjang Indonesia bisa melakukan lobi maksimal kepada Korut.
Tudingan Amerika Serikat (AS) soal peluncuran roket Korea Utara (Korut) yang berdampak terhadap Indonesia sangat berlebihan. Sebagai negara berdaulat, sah-sah saja jika Korut menguji roketnya.
Sekjen PBB Ban Ki Moon mendesak Korea Utara mempertimbangkan kembali rencananya meluncurkan roket jarak jauh pada 15 April. Desakan ini muncul menyusul statemen pejabat AS yang menyebut bahwa roket itu akan berdampak ke Australia, Filipina dan Indonesia.
AS menyebut peluncuran roket jarak jauh Korea Utara pada 15 April akan berdampak ke Indonesia. Pemerintah Indonesia tidak khawatir atas hal itu. Sebab Indonesia dan Korea Utara mempunyai hubungan yang cukup baik.