Isu NII KW IX memberikan implikasi pada masyarakat Indonesia sendiri, terutama pada umat Islam itu sendiri, sehingga munculah kesalahpahaman umat Islam dan keengganan untuk mengenal agamanya sendiri.
Sekitar 100 orang yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pembebasan (GMP) berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Jumat (29/4/2011). Mereka mengkritisi rencana pemerintah dan DPR RI yang akan segera mengesahkan rancangan undang-undang intelijen.
Masyarakat resah dengan merebaknya kembali isu NII KW 9 menyusul maraknya penipuan berkedok doktrin agama. Panji Gumilang disebut-sebut tokoh penting di balik NII KW 9. Untuk mengungkap NII KW 9, polisi diminta meminta penjelasan Panji Gumilang.
NII KW 9 kembali menjadi perbincangan menyusul maraknya penipuan berkedok doktrin agama. Padahal isu ini sudah lama muncul. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) merasa heran mengapa gerakan ini dibiarkan pemerintah.
Apa yang ditulis saudara Cecep Supriyatna (CS) berupa sebuah artikel berjudul "Terorisme, Islam, dan Gus Dur" yang dimuat di detikcom pada tanggal 25/04 menarik untuk ditanggapi.
Ratusan massa HTI Jabar mengecam keras aksi bom bunuh diri yang terjadi di masjid komplek Mapolresta Cirebon. Tindakan kekerasan tersebut bertentangan dengan Islam.
Sekitar 200 anggota HTI Sulsel menggelar long march di fly over Urip Sumoharjo, Makassar. Mereka mengkampanyekan sistem Khilafah Islamiyah yang menurut mereka akan menyejahterakan rakyat Indonesia.
Bom kembali mengguncang Indonesia. Kali ini sebuah Masjid yang menjadi sasarannya. Tepatnya di Masjid Mapolresta Cirebon pada saat menjelang dilakukannya sholat Jumat.
Gerakan perang melawan koruptor dan pemberantasan korupsi tampaknya seperti jauh panggang dari api. Hal ini bisa dilihat kala telah siap dikeluarkannya jurus mabuk berupa revisi UU Tipikor.