Dibanding tiga operator 3G lainnya, hanya Telkomsel dan XL Axiata yang blok frekuensinya di 2,1 GHz tidak kena gusur. Namun kemudahan itu bukan berarti keduanya diistimewakan atau dianakemaskan.
Nasib kelanjutan 3G Telkomsel dan XL ternyata sangat bergantung pada Axis. Kedua operator yang baru saja mendapatkan tambahan blok 3G itu tak bisa membangun jaringannya jika Axis menolak pindah dari blok 3G yang ditempatinya saat ini.
Sebelum Axis menyatakan keberatan untuk pindah blok 3G, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dan Kementerian Kominfo telah terlebih dulu memberikan alasan yang membuat operator itu sulit untuk menolak.
Axis Telekomunikasi Indonesia keberatan dengan kebijakan penataan blok frekuensi 3G dan menyatakan tak mau memindahkan kedua blok existing-nya sebelum blok yang dituju terbebas dari interferensi.
Indosat, Axis, dan Tri, hanya diberikan waktu enam bulan untuk menggeser blok 3G yang ditempatinya di frekuensi 2,1 GHz agar segera bisa ditempati secara berurutan oleh Telkomsel dan XL Axiata.
Kementerian Kominfo akhirnya mengumumkan hasil tata ulang blok 3G yang akan ditempati oleh operator seluler Telkomsel, XL Axiata, Indosat, Hutchison CP Telecom, dan Axis Telekom Indonesia di frekuensi 2,1 GHz.
Kementerian Kominfo tengah menyiapkan standard operating procedure (SOP) untuk penataan ulang blok frekuensi 3G di 2,1 GHz secara keseluruhan setelah menetapkan Telkomsel dan XL Axiata sebagai pemenang tambahan.
Telkomsel dan XL Axiata yang telah ditetapkan sebagai pemenang tambahan 3G di frekuensi 2,1 GHz, masing-masing akan ditagih kewajiban pembayaran up front fee Rp 513,2 miliar dan annual fee tahun pertama Rp 51,3 miliar paling lambat 18 Maret 2013.
BlackBerry membantah rumor terkait kerja sama co-marketing dengan Telkomsel yang membuat operator seluler itu mendapatkan hak eksklusif untuk memasarkan bundling BlackBerry Z10 selama tiga bulan.