Sebagian besar pengobatan medis pasti memiliki efek samping. Salah satunya kemoterapi. Selain menyebabkan rontoknya rambut, kemoterapi juga mempengaruhi kehidupan seks pasiennya.
Pria Berisiko Jika Kadar Testosteron Rendah. Kadar testosteron yang terlalu rendah tak hanya menurunkan gairah seksual tapi juga berisiko bagi kesehatan.
Kebotakan karena usia dapat diatasi dengan obat-obatan tertentu. Yang cukup populer misalnya Finasteride atau Propecia. Namun ternyata sebuah studi baru menemukan obat ini tak hanya berguna untuk mengatasi kebotakan pada pria, tapi juga menghilangkan ketertarikan pria pada minuman keras alias alkohol.
Stress dapat mempengaruhi pertumbuhan rambut. Tekanan di tempat kerja, kemacetan dan berbagai masalah pribadi yang menimbulkan stres dapat menyebabkan rambut rontok.
Tanpa disadari, pria juga kerontokan rambut, bahkan lebih parah daripada wanita. Bahkan faktanya belakangan penipisan rambut juga mulai terjadi pada pria muda di usia 20 dan 30-an tahun. Apa yang terjadi di balik itu?
Sebagian besar kasus kerontokan rambut dapat secara efektif ditangani dengan pengobatan sederhana. Tapi ada pula yang berkaitan dengan kondisi medis tertentu.
Kita tahu merokok punya banyak efek negatif terhadap kesehatan tubuh. Seperti memicu penyakit jantung sampai kanker paru-paru. Tak hanya itu, merokok juga berdampak buruk bagi kecantikan kulit.
Pasien kanker mungkin sudah kenyang dengan kemoterapi yang dapat menimbulkan efek samping seperti rambut rontok. Beruntung seorang ilmuwan asal Jepang berhasil menemukan terapi baru.