Rupiah diprediksi masih bisa menguat karena pasar finansial global yang relatif tenang. Mata uang lokal ini juga bisa mengambil kesempatan dana asing yang masuk ke pasar saham. Pada perdagangan valas pukul 08.15 WIB, Jumat (25/1/2008) rupiah ada di posisi 9.362 per dolar AS dan bergerak pada kisaran 9.340-9.350 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah kembali dibuka menguat tajam. Dalam dua hari terakhir, rupiah bahkan sudah menguat lebih dari 100 poin. Pada perdagangan Kamis (24/1/2008)
Penurunan suku bunga yang diumumkan secara darurat oleh Bank Sentral AS (The Fed) langsung membuat rupiah menguat tajam. Pada perdagangan Rabu(23/1/2008), rupiah dibuka menguat tajam pada level 9.400/9.410 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.475 per dolar AS.
1Nilai tukar rupiah tetap belum beranjak di level 9.400-an akibat tingginya kebutuhan nilai tukar dolar AS dari dalam negeri membuat rupiah kalah bersaing. Pada perdagangan akhri pekan ini Jumat (18/1/2008), rupiah ditutup di posisi 9.440/9.445 per dolar AS, menguat tipis dibandingkan pembukaan pagi tadi di posisi 9.445-9.450 per dolar AS.
Rupiah terimbas kebijakan The Fed. Jumat pagi, rupiah menguat setelah Ketua Bank Sentral AS (The Fed) Ben Bernanke menyatakan kesiapannya menurunkan suku bunga Fed Fund.
Rupiah menggigil di level 9.400-an per dolar AS. Tidak ada sentimen positif yang bisa menghangatkan rupiah sehingga membuat mata uang lokal ini kedinginan. Harga minyak yang tinggi yang sempat di atas US$ 100 per barel membuat ekonomi global ketar-ketir dan menjadi sentimen negatif pergerakan rupiah. Meski punya kesempatan menguat karena dolar sedang melemah terhadap euro tetap saja rupiah tidak berkutik.