Perasaan terus-menerus dianiaya, ditekan, dan dizalimi membuat banyak orang mendapat kesempatan untuk dengan garang menuding pihak lain sebagai para biadab.
Suatu hari seorang lelaki menangis di perpustakaan. Dia berada di dekat jendela yang dibuka. Tapi ia tidak memandang keluar, dan tidak melihat ke mana-mana.