Kartini dikenang dan diparadekan. Dari anak-anak, perempuan bekerja, hingga industri punya cara masing-masing dalam menangkap dan memaknai momen "Kartinian".
Butuh sedikit "keliaran" dan "kenakalan" dalam berpikir untuk menanggapi ucapan seperti "kita suci itu fiksi". Dan, tentu saja, dibutuhkan kemauan untuk itu.