Akibat trauma yang mendalam, satu keluarga korban bencana alam akhirnya memilih meninggalkan kota Palu dan mengungsi ke rumah kerabatnya yang ada di Banyuwangi.
Tujuh puluh lima tahun pada puncak Perang Dunia II, pilot pesawat pembom Jepang mengira komunitas Aborijin di Australia Barat sebagai pangkalan militer.