Dengan mengakomodasi partai-partai di kabinet, SBY kira punya basis dukungan aman di DPR. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. SBY suka bersolek diri, 60% mandat rakyat pun sia-sia.
Gaya SBY-Boediono yang cenderung mau menyenangkan banyak pihak, dimanfaatkan sepenuhnya oleh para elit partai koalisi demi kepentingan masing-masing. Koalisi jadi ajang dagang sapi: bagi-bagi uang dan jabatan.
Beberapa kali presiden salah memilih menteri, tetapi kesalahan SBY kali ini kelewat fatal. Tidur siang melupakan tamu, tersangkut isu perselingkuhan, adalah contoh perilaku buruk menteri. Ada yang gemar bikin kontroversi dan banyak yang tidak paham pekerjaannya.
Bukan hanya di atas bumi. Sampai perut bumi pun kita terjajah oleh asing dengan kedok investasi, alih tekhnologi, dan kata lain yang terasa manis didengar. Inilah nasionalisme yang selama ini tidak pernah kita perhatikan.
Pihak Istana baru akan menyerahkan nama calon Kapolri kepada DPR. Sebelum hal itu dilakukan, Kompolnas didesak untuk membuka hasil klarifikasi 5 lembaga yang digunakan untuk menyeleksi calon Kapolri.
Kesenjangan ekonomi terasa terutama di desa. 64% orang miskin berada di pedesaan. Tanpa mengubah paradigma kebijakan ekonomi secara mendasar maka bisa dipastikan Indonesia tidak akan pernah bisa terlepas dari masalah kemiskinan.
Siapa calon Kapolri pilihan Presiden masih menjadi tanda tanya. Namun yang jelas, sebelum melakukan fit and proper test, DPR akan memberikan kesempatan masyarakat untuk memberikan masukan terhadap calon tersebut.