Seandainya bumi bisa berbicara, saya yakin ia sudah berteriak, mengutuki kita, manusia yang sudah merusak alam ini. Seandainya binatang bisa menangis ,saya yakin tak akan ada habisnya titik air mata yang mereka keluarkan karena ulah dari sebagian manusia.
Untuk mencapai surga dunia tersebut, kami harus menyeberang ke Pelabuhan Amahay di Kota Masohi Pulau Seram dari Pelabuhan Tulehu di Kabupaten Maluku Tengah. Setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan ke Desa Saleman selama kurang lebih 2 jam. Mulai dari keramaian Kota Masohi hingga masuk ke dalam hutan. Lalu kami kembali berlayar dengan menggunakan perahu cepat selama 5 menit untuk mencapai Pantai Ora sekaligus penginapannya.
Kekecewaan demi kekecewaan kami terhadap kondisi Desa Kayeli sebelumnya cukup terbayar dengan kemegahan panorama yang melatarbelakangi Desa dan Teluk Kayeli tersebut. Gunung yang tidak terlalu tinggi didampingi dengan bukit-bukit yang berbaris rapi menaungi desa. Kabut tipis menyelimuti puncak gunung tersebut sehingga menambah kesan sejuk dan damai.
Inti berwisata ke kampung adat adalah mencoba hidup se-"asli" mungkin serupa masyarakat setempat. Nah, khasnya masyarakat di Baduy, mereka tidak masalah harus jalan kaki ke mana-mana, walaupun jarak yang ditempuh jauhnya minta ampun. Ini yang saya coba nikmati, jalan kaki ke mana saja. Dan, hari ini saya bersiap ke Dangdang Ageung dan Jembatan Akar di kawasan Baduy Luar.
Belum banyak masyarakat yang tahu tentang danau terbesar kedua di pulau Sumatra ini. Mari kita menjelajah lebih jauh untuk menyibak keindahannya yang tersembunyi.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau berhasil menangkap harimau pemangsa manusia. Sayangnya, setelah ditangkap harimau itu akhirnya mati.