Departemen Luar Negeri AS telah menyetujui penjualan senjata senilai US$1,96 miliar (sekitar Rp 33,5 triliun) untuk memperkuat pertahanan udara Arab Saudi.
Produsen senjata di Eropa, terutama Jerman, mencatat lonjakan penjualan peralatan militer sepanjang 2024. SIPRI menyebut perang di Ukraina jadi faktor utamanya.