Pemerintah Amerika Serikat menyatakan pemerintah Myanmar harus ikut bertanggung jawab atas krisis Rohingya. Ini dikarenakan warga Rohingya selama ini tidak mendapat status kewarganegaraan dari pemerintah Myanmar.
Pencabutan kartu identitas yang dikenal sebagai Kartu Putih bagi orang Rohingya oleh pemerintah Myanmar mungkin menjadi salah satu faktor yang membuat mereka nekat mempertaruhkan nyawa mengarungi laut.
Arus migran dari Bangladesh dan Myanmar ke kawasan Asia Tenggara kian marak akibat jaringan perdagangan manusia. Upaya pemberantasan menjadi masalah pelik karena jaringan itu melibatkan aparat dan masyarakat.
Jenderal militer Myanmar menyebut para imigran gelap yang terdampar di Malaysia dan Indonesia berpura-pura menjadi warga Rohingya. Hal ini demi mendapat bantuan PBB.
Sebuah pentas kesenian karya Bramantyo Prijosusilo tentang pernikahan Mbah Kodok (64) dan peri bernama Roro Setyowati disaksikan ribuan orang. Mereka datang dari berbagai daerah, hingga ke luar negeri.
Mbah Kodok itu sebenarnya sudah berniat 'menikah' dengan peri 6 tahun sebelumnya. Hingga mendekati Oktober 2014, Bram menyetujui 'menikahkan' Mbah Kodok dengan Peri Setyowati pada Oktober 2014.
PM Malaysia Najib Razak memerintahkan Angkatan Laut negeri itu untuk melakukan misi pencarian dan penyelamatan ribuan migran Rohingya dan Bangladesh yang terombang-ambing di lautan.
Sejumlah pihak menyambut baik kesediaan Indonesia, Malaysia dan Thailand untuk menampung sementara ribuan pengungsi. Tetapi syarat prakarsa itu dikhawatirkan sulit diterapkan karena pembatasan tempo.
Indonesia dan Malaysia berjanji akan memberikan tempat penampungan sementara bagi ribuan migran Rohingya dan Bangladesh yang masih terombang-ambing di lautan. Hal ini disambut oleh badan pengungsi PBB, UNHCR.