Ratusan massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mendatangi Konsulat Jenderal Amerika Serikat (AS). Mereka mengutuk keras tindakan Israel dan mengajak negara muslim segera mengirim pasukan ke Palestina.
Bombardir Israel ke Jalur Gaza terus menuai kecaman. Serangan militer membabi-buta yang menewaskan ratusan orang tersebut dinilai sebagai kejahatan kemanusiaan.
Dampak seruan pemangkasan produksi minyak negara-negara OPEC baru mulai berdampak secara fundamental pada awal Februari 2008. Kenaikan harga minyak yang mendekati US$ 40 per barel temporal saja.
Batalnya kerjasama antara Kuwait dan Dow Chemical membawa sentimen negatif ke bursa Wall Street. Saham-saham kembali bergerak negatif dengan volume perdagangan yang sangat tipis.
Pemerintah Indonesia mendesak Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memerintahkan Israel menghentikan serangan ke Palestina. Jika Israel bandel, Indonesia meminta PBB segera bertindak.
Hamas membantah berita yang menyebutkan bahwa mereka siap untuk melakukan gencatan senjata dengan Israel. Hamas bersikeras menolak gencatan senjata sebelum serangan Israel dihentikan.
Keberpihakan Amerika Serikat (AS) terhadap Israel semakin nyata. Jika banyak pihak mengecam penyerangan Israel ke Palestina, AS justru menyalahkan Hamas. AS mendesak Hamas menyepakati gencatan senjata jangka panjang dengan Israel.