Aksi profit taking akhirnya menghentikan laju penguatan yang kuat di bursa Wall Street. Namun indeks saham masih mampu mencetak kenaikan meski sangat tipis.
Harga emas dunia kembali melonjak menembus level psikologis US$ 1.100 per ounce. Kembali melemahnya dolar AS memicu lonjakan logam mulia yang dianggap sebagai tempat hedging ini.
Penerimaan Migas hingga Oktober 2009 baru mencapai Rp 124 triliun atau 67 persen dari target APBN-P sebesar Rp 183,6 triliun. Rendahnya harga minyak dunia dan penguatan nilai tukar rupiah menjadi faktor kuat.
Program 10.000 MW yang merupakan program Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I, ternyata gagal total karena sampai akhir 2009 PT PLN hanya mendapat pasokan tambahan listrik sebesar 900 MW atau kurang dari 10%. Hal ini disebabkan investor China yang menjadi pendukung utama program ini, ingkar janji.
Saham-saham di bursa Wall Street kembali melaju berkat data perekonomian yang memacu lagi optimisme pemulihan ekonomi. Laporan keuangan dari Cisco System turut memberi rasa optimisme.
Indonesia masih optimis bisa mencapai tingkat produksi minyak nasional sebesar 1 juta barel per hari. Hal ini didasarkan atas penambahan 5 aset baru lahan eksplorasi, pada kuartal III-2009 dari 24 aset yang ada saat ini.
Saham-saham AS menguat setelah Warren Buffet setuju untuk membeli Burlington Northern Santa Fe Corp. Bursa Jepang melemah di awal perdagangan, dengan sektor finansial memimpin pelemahan. Berikut market flash eTrading Securities.
Saham-saham bergerak mixed dengan indeks Dow Jones ditutup minus, sementara indeks Standard & Poor's 500 dan Nasdaq masih menguat menjelang hasil pertemuan Bank Sentral AS.