Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negara menghadapi "perang skala penuh" dengan AS, menekankan dampak ekonomi dan potensi ketidakpuasan masyarakat.
Garda Revolusi Islam Iran mewanti-wanti untuk tidak melintasi Selat Hormuz tanpa izin. Diingatkan bahwa kapal-kapal yang tidak mematuhi aturan "akan ditindak".
Wapres AS JD Vance mengatakan bahwa menurunkan harga bahan bakar untuk rakyat Amerika kini menjadi prioritas nomor satu AS, bukan lagi mencegah nuklir Iran.
Korban tewas akibat gelombang serangan udara AS yang menghujani berbagai target Iran, sejak akhir Juni lalu, kembali bertambah menjadi lebih dari 50 orang.
Iran menegaskan 75 persen kemampuan rudal dan drone mereka masih utuh dan siap digunakan, meskipun telah dihantam serangan besar-besaran AS dan Israel.