Di sejumlah negara, nuklir sudah dimanfaatkan sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik alias power plant. Di Indonesia, nuklir masih jadi kontroversi.
Jumlah penduduk Indonesia saat ini sudah lebih dari 200 juta jiwa, sementara kapasitas listriknya hanya 40 giga watt. Ini berarti Indonesia miskin listrik.
Elektrifikasi atau tingkat kelistrikan di Indonesia masih di bawah 80%, sehingga masih sering terjadi byat-pet. Tanpa bantuan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Indonesia akan terus mengalami krisis listrik.
Kebutuhan listrik di Jakarta kian meningkat. Pembangkit Listrik (PL) yang ada dirasa kurang untuk memebuhi kebutuhan tersebut. Karena itu, Pemprov DKI berencana untuk melakukan studi kelayakan PLTN.
Negeri sakura Jepang memiliki kondisi listrik yang sangat baik dan hampir tidak pernah terjadi byar-pet atau pemadaman bergilir. Alasannya, Jepang mengandalkan nuklir untuk kebutuhan listrik rakyatnya.
Setidaknya tujuh orang tewas akibat gempa bumi di Bushehr, Iran, yang berada dekat PLTN milik negara tersebut. Hingga saat ini, belum ada laporan kerusakan dari reaktor nuklir yang ada di pembangkit itu.
Gempa bumi berkekuatan 4,7 Skala Richter (SR) mengguncang kawasan teluk di Iran. Sedikitnya tujuh orang tewas akibat guncangan yang lokasinya berada di dekat PLTN di Iran itu.
BATAN bekerjasama dengan Iconia Solusi Prioritas merilis hasil survei penerimaan masyarakat terhadap nuklir. Dalam survei tersebut sebanyak 76,5% dari 3.000 responden menyatakan setuju dengan pengembangan teknologi nukli.