Kekerasan sektarian antara warga Buddha dan muslim Rohingya di Myanmar terus terjadi. Badan pengungsi PBB alias UNHCR meminta negara-negara tetangga Myanmar untuk siap menerima para pengungsi Rohingya.
Kondisi umat muslim Rohingya di Myanmar yang terus mendapat tindakan represif dari pemerintah setempat, mengundang keprihatinan dunia internasional. Salah satu keprihatinan itu datang dari Iran.
Ulama senior Iran menyerukan para pemimpin Arab untuk tidak mengintervensi masalah dalam negeri Suriah. Menurutnya, Arab lebih baik membela minoritas muslim Rohingya yang teraniaya di Myanmar.
Pemerintah Myanmar menolak tawaran dari ASEAN untuk mengadakan pembicaraan guna membahas konflik Buddha dan Rohingya di Rakhine, Myanmar. Alasannya, hal itu merupakan urusan dalam negeri Myanmar.
Bentrokan antara warga Buddha dan Rohingya yang kembali terjadi di Myanmar bulan ini menewaskan sedikitnya 88 orang. Lebih dari 26 ribu orang lainnya pergi meninggalkan rumah mereka.
Pemerintah Birma mengatakan lebih dari 22.000 orang yang kebanyakan merupakan Muslim Rohingya kehilangan tempat tinggal akibat kekerasan di negara bagian Rakhine.
Human Rights Watch (HRW) mendesak pemerintah Myanmar untuk melindungi minoritas Rohingya yang tengah mengalami serangan kejam. Diingatkan HRW, konflik akan terus memburuk jika akar permasalahan tidak segera diatasi.
Kekerasan sektarian terus terjadi di negara bagian Rakhine, Myanmar barat. Ribuan orang yang kehilangan tempat tinggal, terus membanjiri kamp-kamp pengungsi yang sudah penuh sesak.