Situasi pasar finansial dunia yang sedang limbung membuat siapapun siaga satu. Tak hanya nasabah, bank pun memilih untuk berhati-hati untuk masalah kredit. Semua seolah tak mau kondisi tahun 1998 terulang.
BNI akan mempertahankan porsi KPR dan kredit kendaraan dalam portofolio total kredit yang dikucurkannya. Pada 2009, porsi kedua kredit akan akan dijaga sebesar 13%-14%.
BTN sampai saat ini masih terus mengucurkan kreditnya terutama KPR yang menjadi bisnis utamanya. Namun BTN mulai selektif memberikan kredit ke masyarakat.
Sikap perbankan nasional yang lebih selektif dalam mengucurkan kredit di tengah ketatnya likuiditas global saat ini masih dinilai dalam batas yang wajar.
Perbankan nasional kini lebih selektif dalam mengucurkan kredit properti di saat kondisi pasar finansial global sedang tidak bagus. Pengucuran kredit dilakukan lebih hati-hati.
Bank-bank dikabarkan menghentikan sementara pengucuran KPR karena tingginya suku bunga dan ketatnya likuiditas. Sektor properti pun bisa terancam, termasuk multiplier effect-nya.
Nyatanya hal ini tidak terbukti. Malah mengecewakan konsumen. Ketika telah diperbaiki beberapa kali, setelah saya mengajukan komplain, hal ini masih terjadi. Sungguh aneh dan mengecewakan.
BTN optimistis bisa melakukan pelepasan saham perdana pada semester kedua tahun 2009. Targetnya perseroan akan melepas 30% sahamnya dengan nilai equity disekitar Rp 2,2 triliun.