Nilai tukar rupiah kembali melemah ditengah situasi pasar finansial dunia yang sedang amburadul. Hal itu diperparah dengan permintaan valas dari Pertamina yang terus memuncak seiring kenaikan harga minyak mentah dunia. Pada perdagangan Jumat (18/1/2008), rupiah dibuka langsung melemah ke level 9.475/9.480 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.445 per dolar AS.
Produksi minyak nasional tahun 2007 diprediksi tidak bisa mencapai target. Namun pendapatan dari sektor ini akan tertolong pendapatan ekspor LNG Badak.
Pasar valas yang belum begitu ramai membuat rupiah gampang berfluktuasi di level 9.400-an/US$. Belum ada 'obat' yang menyembuhkan rupiah keluar dari jalur negatif.
Rupiah ditutup melemah 23 poin ke posisi Rp9.455 per USD. Posisi rupiah ada di kisaran Rp9.445 dan tertinggi di Rp9.465 per USD. Pergerakan rupiah masih di bayangi kenaikan harga minyak mentah.