Ratusan polisi kembali berjaga-jaga di depan Mall of Indonesia (MoI), Jalan Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Polisi akan tetap berada di lokasi ini hingga situasi kondusif.
Nafsu besar tenaga kurang. Mungkin ungkapan itu tepat untuk menggambarkan keinginan Indonesia tancap gas di dunia maya dengan koneksi internet yang masih lelet. Mungkinkah Indonesia bisa menerapkan Internet of Everything (IoE) yang menjadi dasar <em>smart city</em>?
Cisco dan Pemerintah Kota Kansas, Missouri, Amerika Serikat telah membuat kesepakatan untuk membangun Smart City. Kesepakatan ini diumumkan di acara Cisco Live! 2015.
Bentrokan yang terjadi di Mall of Indonesia (MOI), Kelapa Gading, Jakarta Utara, disebut oleh polisi berawal dari permintaan 'jatah preman' oleh ormas FBR.
Pihak manajemen Mal of Indonesia (MOI) memberikan penjelasan terkait keributan yang terjadi di depan kawasan mal tersebut pada Jumat (29/5) lalu. Pasca insiden tersebut, MOI tetap buka seperti biasa.
Total ada 31 orang yang diamankan terkait keributan FBR vs satpam di MOI, Kelapa Gading. Kemudian dari 31 orang itu, mengerucut menjadi 12 orang tersangka.
Sebelum melakukan pengrusakan di Mal of Indonesia (MOI) masa FBR dari Cilincing dan Koja mendatangi Polsek Kelapa Gading. Mereka meminta Kapolsek Kelapa Gading menangkap security mal pemukul anggotanya.
Seorang pengunjung yang menjadi korban pengrusakan kendaraan menceritakan awal situasi bentrokan antara satpam dan anggota FBR di kawasan MOI, Kelapa Gading.
Keributan pecah antara anggota ormas FBR dan petugas keamanan di MOI Kelapa Gading, Jakarta Utara. Akibat keributan ini kaca-kaca loket parkir yang ada di depan pusat perbelanjaan ini hancur berantakan.