Perajin tempe tahu khususnya di Jabodetabek masih mengandalkan pasokan kedelai impor untuk memenuhi kebutuhan produksinya yang mencapai 150.000 ton kedelai tiap bulan.
Indonesia pernah mencapai swasembada kedelai pada 1992 atau 23 tahun lalu. Untuk kembali bisa swasembada bukan jalan yang mudah, karena para petani lebih memilih menanam padi daripada kedelai.
Mentan Amran Sulaiman mengaku prihatin dengan jatuhnya harga kedelai di tingkat petani saat ini. Ia meminta para pengusaha, terutama importir kedelai, untuk membeli sebanyak-banyaknya kedelai lokal.
Indonesia pernah mencapai swasembada kedelai, tepatnya pada tahun 1992 alias 23 tahun lalu. Saat itu, luas panen kedelai di seluruh Indonesia mencapai 1,889 juta hektar sehingga produksi melimpah.
Penguatan dolar AS saat ini yang sempat tembus Rp 14.000/US$, sebenarnya merupakan kesempatan bagi petani kedelai lokal untuk merebut pasar yang selama ini dikuasai oleh kedelai impor.
Harga kedelai lokal di tingkat petani saat ini justru anjlok hingga di bawah Rp 6.000/kg. Sementara di sisi lain, harga kedelai impor justru melonjak sampai di atas Rp 7.000/kg.
Sepekan jelang hari raya Idul Fitri 1436 H, harga rata-rata nasional sejumlah kebutuhan pokok mengalami penurunan. Misalnya harga bawang merah yang beberapa pekan lalu tinggi kini sudah stabil.