Sejak liberalisasi perbankan Juni sebenarnya bersumber dari "anjuran" IMF, Bank Dunia, ADB, dan negara lintah darat (kreditor). Anjuran itu menegaskan daulat ekonomi Indonesia di tangan mereka.
Nilai tukar rupiah kembali melemah ditengah situasi pasar finansial dunia yang sedang amburadul. Hal itu diperparah dengan permintaan valas dari Pertamina yang terus memuncak seiring kenaikan harga minyak mentah dunia. Pada perdagangan Jumat (18/1/2008), rupiah dibuka langsung melemah ke level 9.475/9.480 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.445 per dolar AS.
Produksi minyak nasional tahun 2007 diprediksi tidak bisa mencapai target. Namun pendapatan dari sektor ini akan tertolong pendapatan ekspor LNG Badak.