Aksi demo besar-besaran terjadi di Malaysia beberapa hari lalu. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan prihatin atas tindakan aparat polisi Malaysia terhadap para demonstran.
Pemerintah Malaysia melakukan investigasi atas tewasnya seorang demonstran dalam unjuk rasa menuntut pemilu bersih di Malaysia yang pecah, 9 Juli lalu.
Menyusul aksi demo yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, kini muncul gerakan untuk mendesak pengunduran diri Perdana Menteri (PM) Malaysia Datuk Najib Tun Razak.
Polisi Malaysia dituduh bersikap brutal terhadap para demonstran. Namun pemerintah Malaysia membantahnya. Bahkan Mendagri Hishammuddin Hussein mengancam akan mengambil tindakan terhadap mereka yang melontarkan tuduhan itu.
Aksi demo di Malaysia pada 9 Juli lalu berakhir ricuh setelah polisi menembakkan gas air mata ke para demonstran. Bahkan dikabarkan polisi juga melakukan tindak kekerasan terhadap demonstran. Situs Malaysia Kini memuat gambar seorang demonstran sedang ditendang.
Ribuan warga Malaysia ikut serta dalam aksi demo menuntut reformasi pemilu pada 9 Juli lalu. Namun PM Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak mengingatkan bahwa demo jalanan tidak boleh dijadikan bagian dari kultur Malaysia.
Pengerahan ribuan massa di Kuala Lumpur oleh kelompok Bersih 2.0 menuntut terjadinya reformasi politik di Malaysia. Karena tidak mempunyai pra kondisi yang sama dengan Indonesia, maka demonstrasi di Malaysia diramalkan tidak berakhir seperti 1998.
Demonstrasi besar-besaran oleh kelompok yang menamakan diri Bersih 2.0 di Malaysia adalah bentuk upaya untuk menarik simpati masyarakat. Kelompok oposisi harus bisa memainkan isu-isu kesejahteraan dan politik untuk menarik banyak massa.