Kangen nasi Bali, nasi kebuli atau nasi langgi? Mampir saja ke Summarecon Mal Serpong. Dalam festival kuliner yang dibalut suasana Bali ini, ada puluhan jenis makanan dari seluruh nusantara dihadirkan lengkap. Dijamin keaslian dan kelezatannya!
Meskipun diracik oleh wong Jowo, soto ini tetap menganut aliran Sumatera. Daging udang galahnya gurih-gurih kenyal, direndam kuah kuning yang wangi semerbak. Taburan seledri bikin soto ini sedap. Makin mantap dihirup hangat-hangat ditemani sepiring nasi. Pancen enak tenan!
Petugas Polres Lamongan menggelar razia kendaraan bermotor dan bahan peledak di jalur poros Surabaya-Lamongan. Razia ini dilakukan sebagai langkah antisipasi agar kejadian seperti bom solo tidak terjadi di Kota Soto.
Kalau ingin mencicipi lezatnya aneka jenis burung goreng mampirlah ke sini. Ada burung belibis, burung ruak-ruak, burung ayam-ayam atau burung merpati. Panas mengepul, rasanya gurih krenyes enak. Dicocol sambal bawang rawit dan kecap.. huah.. huah aduhai sedap!
Salah satu rujak cingur legendaris dari kawasan Menteng ini memang selalu bikin kangen. Ulegan bumbunya yang dicampur dengan petis udang kental kecokelatan. Setelah diaduk dengan sayuran plus cingur yang kinyil-kinyil empuk, gurih,sedikit manis dan pedas. Wuenaak tenan!
Keistimewaan warung ini selain masakannya yang cocok di lidah, menunya juga cukup beragam, ada pecel lele, opor ayam kampung, soto kerbau, mangut ikan, pecel ikan bandeng, sop ayam, dan masih menu lainnya yang tak kalah nikmatnya.
Di depan Stasiun Babat inilah saya menemukan warung-warung yang berjejer rapi dengan menu yang hampir sama, yaitu nasi pecel, nasi rawon, asem-asem, dan soto. Karena saya tidak suka makanan yang banyak lemak dan kolesterol akhirnya pilihan jatuh pada nasi pecel ala Stasiun Kereta Api Babat ini.
Menyebut bakso yang pertama kali terbayang di kepala biasanya bulatan-bulatan campuran tepung dan daging. Beberapa orang menyebutnya sebagai pentol bakso, sebagian lagi hanya menyebutnya bakso saja.
Namanya aneh, Warung Nesu Mulih Pak PM. Ketika ditanyakan kenapa diberi nama begitu, sang empunya bercerita kalau dulu banyak pelanggan yang sering pulang sambil marah-marah karena tidak segera dilayani.