Penguatan rupiah yang gemilang pada Kamis kemarin (26/6/2008) hanya berumur pendek. Gara-gara harga minyak yang tinggi, rupiah ikut kesetrum dan melemah lagi ke 9.200-an per dolar AS.
Rupiah naik tajam mengikuti positifnya pasar finansial di wilayah regional pasca-stabilnya suku bunga the Fed 2%. Stabilnya the Fed membantu penguatan rupiah yang naik lumayan banyak.
Rupiah pagi menunjukkan semangat luar biasa untuk menguat. Stabilnya suku bunga the Fed membuat pelaku pasar bersiap ambil posisi untuk membeli portofolio dalam mata uang rupiah.
Rupiah makin stabil di tengah masih banyaknya sentimen negatif di pasar global. Rupiah berada di level 9.250-an per dolar AS. Pada perdagangan valas pukul 16.00 WIB, Rabu (25/6/2008) rupiah stabil di posisi 9.255 per dolar AS.
Rupiah mulai menunjukkan penguatannya di tengah masih banyaknya sentimen negatif di pasar global. Rupiah menyusuri level 9.250-an per dolar AS yang merupakan level terkuatnya dalam beberapa bulan terakhir.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hanya bergerak terbatas. Sepinya sentimen dalam negeri karena investor masih menunggu data moneter awal Juli mendatang jadi penyebab minimnya pergerakan rupiah.
Posisi rupiah yang pekan lalu menguat ke level 9.270-an per dolar AS diperkirakan akan mulai berbalik arah. Titik keseimbangan mata uang lokal ini akan banyak diganggu sentimen negatif.
Posisi rupiah yang pekan lalu menguat ke level 9.250-an per dolar AS diperkirakan akan mulai berbalik arah. Titik keseimbangan mata uang lokal ini akan banyak diganggu sentimen negatif. Pada perdagangan valas pukul 08.15 WIB, Senin (23/6/2008) rupiah ada di posisi 9.258 per dolar AS dan ditransaksikan dikisaran 9.255-9.261 per dolar AS.