Pemangkasan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) sebesar 0,5% menjadi 2% membuat mata uang tunggal Eropa melemah terhadap dolar AS. Sementara itu, rupiah cenderung stabil.
Rupiah masih kembali dibuntuti pelemahan karena permintaan dolar korporasi yang signifikan kembali muncul. Rupiah bertahan di posisi 11.000-an per dolar AS karena lesunya pasar finansial dalam negeri.
Sentimen positif yang diharapkan dari terkait turunnya harga BBM belum bisa menolong pergerakan rupiah. Pada perdagangan Selasa (13/1) rupiah tertahan di 11.205 per dolar AS.
Rupiah berharap pada sentimen positif akibat penurunan harga BBM. Namun ancaman pelemahan juga mungkin timbul karena korporasi mulai bersiap menyediakan valas untuk kebutuhan rutin akhir bulan, seperti membayar kewajiban dan import.
Menurut Deputi Gubernur BI, Hartadi Sarwono, nilai tukar rupiah tahun ini masih mendapat tekanan yang berasal dari krisis ekonomi global. Fluktuasi rupiah terhadap dolar AS masih terjadi karena adanya penurunan permintaan.
Posisi rupiah melemah tipis di level 11.050 atau melemah 350 poin dibanding penutupan akhir pekan yang berada di level 10.800. Pelemahan nilai tukar rupiah ini terjadi karena pelaku pasar kembali membeli dolar AS.