Konversi minyak tanah ke gas dianggap sebagai biang kerok langkanya minah di berbagai daerah. BPH Migas dan DESDM dianggap dua institusi yang paling bertanggung jawab.
Pertamina mengurangi pasokan minyak tanah di Jakarta. Tindakan ini dinilai sebagai ketakutan Pertamina kalau minyak tanah akan diselewengkan untuk industri.
Awal 2005 lalu, Aburizal Bakrie sempat berseloroh soal penggunaan kayu bakar di tengah melambungnya harga minyak tanah dan gas. Ucapan itu kini jadi kenyataan.
Di tengah pro kontra efektivitasnya, program konversi minyak tanah ke gas jalan terus. Hal ini ditandai dengan kesiapan pangkalan dan agen yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya.
Antrean minyak tanah kembali terjadi di Ibukota. Mepetnya waktu sosialisasi dianggap sebagai penyebab masyarakat sulit menerima gas sebagai pengganti minyak tanah.
Untuk tujuan penghematan, ide konversi minyak tanah dicetuskan. Warga miskin yang kebanyakan memakai bahan bakar minyak tanah pun diberi kompor gas gratisan.