Papua negeri petualangan. Itulah kata yang cocok dahsyatya keindahan alamnya. Menyusuri sungai berjam-jam dengan Speedboat dan terbang melalui sungai bagian yang tak terlupakan jika anda berpetualang disana.
Batuknya Merapi (erupsi kecil-red) yang terjadi sore ini tepat pukul 16.10 WIB ternyata disertai luncuran awan panas. Selain itu, Merapi juga menyebabkan hujan abu di 3 desa di Magelang.
Senggo, sebuah desa di pinggiran sungai Daerum. Disitulah saya, Harley dan Bang Leo kami menginap sebelum berpetualang ke pedalaman Suku Korowai di Basman. Sebuah desa di Distrik Citak Mitak Kab. Mappi yang jaraknya kurang lebih enam jam dengan speed boat dari Agats. Melewati Teluk Flamingo di Laut Aru dan sungai-sungai besar di Papua menjadikan perjalanan ini sebuah petualangan yang seru.
Sangat panasnya material Merapi terlihat di hutan Pethit Opak yang berada di lereng Merapi, sekitar 3 KM dari puncak. Hutan yang biasa digunakan Mbah Maridjan melakukan ritual labuhan itu benar-benar hangus.
Pemotongan jari atau telinga kiri yang disebut ikin palin ini melambangkan kepedihan dan sakitnya kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Ungkapan yang begitu mendalam, bahkan harus kehilangan anggota tubuh.
Kami menuruni jalan zig zag untuk mencapai Curug Ceheng yang berada di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Banyumas Jawa Tengah. Ketika menapaki jalan yang menurun itu kami disuguhi pemandangan berupa peladangan milik warga, warnanya yang yang hijau dan semilirnya angin yang berhembus diantara pohon-pohon menuju Curug Ceheng ini benar benar menyejukkan. Saya juga melihat...
Bencana memang datang tak diundang. Meski teknologi sudah bisa memprediksi beberapa bencana tapi tetap tidak ada salahnya membaca tanda-tanda alam agar selamat dan sehat.